Cadangan Devisa Emas Bank Sentral Belum Bernas

Selasa, 14 May 2024

JAKARTA. Bank sentral sejumlah negara belum rajin memupuk cadangan devisa emas (monetary gold) di tengah ketidakpastian global saat ini. Pasalnya, volume cadangan emas sejumlah bank sentral terpantau stagnan. Cadangan emas moneter merupakan persediaan emas yang dimiliki bank sentral. Bentuknya berupa emas batangan yang memenuhi persyaratan internasional tertentu, seperti London Good Delivery (LGD). Selain itu, yang termasuk cadangan emas adalah emas murni, serta mata uang emas yang ada di dalam negeri maupun luar negeri. Berdasarkan data World Gold Council, cadangan devisa emas Bank Indonesia (BI) tercatat sebesar 78,6 ton, dengan persentase kepemilikan sebesar 3,9% terhadap total cadangan devisa nasional pada Februari 2024. Volume monetary gold milik BI tersebut cenderung stagnan dibandingkan posisi pada akhir 2022 dan 2023 yang juga tercatat sebesar 78,6 ton. Meski demikian, dari data Spesial Data Dissemination Standard (SDDS) BI, nilai monetary gold pada April 2024 mencapai US$ 5,854 miliar, naik dari bulan sebelumnya yang sebesar US$ 5,541 miliar.

Sementara cadangan devisa emas bank sentral lainnya juga terpantau stagnan. Dari data World Gold Council pula, cadangan devisa emas Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) pada Maret 2024 tercatat 8.133,5 ton, setara 71,3% dari cadangan devisa AS. Kepemilikan emas moneter The Fed merupakan yang terbesar di dunia (lihat tabel). Namun, volume monetary gold The Fed juga cenderung stagnan, yakni pada 2022 dan 2023 mencapai 8.133,46 ton. Bank Sentral Jerman juga memiliki cadangan devisa emas besar, mencapai 3.352,3 ton per Maret 2024 atau 70,6% dari total cadangan devisa negaranya. Namun volumenya juga stagnan, lantaran di 2023 tercatat sebesar 3.352,65 ton. Untuk kawasan Asia, kepemilikan cadangan devisa emas Bank Sentral China tak setinggi Amerika Serikat dan Jerman. People's Bank of China (PBoC) memiliki monetary gold sebesar 2.262,4 ton, atau hanya 4,6% pada Maret 2024 dari total cadangan devisanya. Namun, dilihat dua tahun sebelumnya, kepemilkan emas moneter China meningkat tajam, yakni dari 2022 yang hanya 423,63 ton, lalu naik di 2023 menjadi 2.235,39 ton.

Kenaikan harga

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede berpendapat, nilai cadangan devisa emas milik BI meningkat sejalan dengan kenaikan tajam pada harga emas internasional, yakni sekitar 14% secara tahun kalender. "Sehingga hal tersebut menyebabkan permintaan komponen cadangan devisa emas juga cenderung meningkat," tutur dia kepada KONTAN, Minggu (12/5). Menurut Josua, pergerakan harga emas ke depan akan bergantung pada kondisi perekonomian global yang saat ini masih diliputi ketidakpastian, terutama dipengaruhi oleh tensi geopolitik di Timur Tengah yang belum bisa diprediksi apakah akan mereda atau justru memburuk. Namun ia melihat harga emas di pasar global akan mencapai puncaknya pada kuartal IV2024, yakni di kisaran U$S 2.400 per troy ounce dari posisi saat ini di level U$S 2.361 per troy ounce.

Staf Bidang Ekonomi, Industri dan Global Markets Bank Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto menilai, ketersediaan likuiditas yang menurun seiring kebijakan moneter yang ketat dari Bank Sentral Eropa (ECB) dan The Fed membuat cadangan devisa dari AS dan Jerman jadi stagnan. Hal ini juga akhirnya berimbas pada kondisi cadangan emas kedua bank sentral tersebut. Sementara meningkatnya cadangan emas PBoC lanjut dia karena adanya pergeseran investasi aset Bank Sentral China dari obligasi pemerintah AS ke emas. "Ini terjadi seiring tren kenaikan bunga moneter The Fed. Selain itu, karakteristik masyarakat yang menyukai emas membuat permintaan emas meningkat di China," tutur Myrdal kepada KONTAN, Senin (13/5). Ke depan, dia melihat kondisi cadangan emas global akan cenderung turun sejalan dengan adanya normalisasi kebijakan likuiditas global. Akan tetapi, cadangan emas bisa kembali meningkat jika adanya kenaikan tensi geopolitik yang kuat. Jika ini terjadi, maka akan mendorong permintaan lebih banyak pada aset aman, seperti emas.

Sumber : Kontan 14 Mei 2024

 


One Line News

Investalearning.com
Admin (Online)