JAKARTA. Kiprah taipan Prajogo Pangestu di pasar modal membetot perhatian. Tahun lalu, dua perusahaan afiliasinya PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) melantai di bursa. Harga saham keduanya meroket. Bahkan BREN sempat menduduki takhta emiten dengan kapitalisasi pasar atau market capitalization (market caps) terbesar, walau cuma sekejap. Kedua emiten Grup Barito ini juga rajin akuisisi. Terbaru, CUAN akan mencaplok saham kontraktor pertambangan, PT Petrosea Tbk (PTRO). Rencananya, CUAN akan membeli 342,92 juta saham PTRO. Jumlah ini mewakili 34% saham PTRO. Nilainya mencapai Rp 940 miliar. Setelah akuisisi, CUAN melalui anak usahanya, yakni PT Kreasi Jasa Persada akan menjadi pengendali baru PTRO. Langkah ini tinggal memperoleh persetujuan rapat umum pemegang saham (RUPS) bulan ini. Bila CUAN mendapat restu mengakuisisi PTRO, portofolio bisnis Prajogo di bursa bertambah. Prajogo dominan memiliki lima emiten terafiliasi di Bursa Efek Indonesia(BEI) yakni CUAN, PTRO, BREN, PT Barito Pacific Tbk (BRPT), dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA). Kapitalisasi pasar grup emiten Prajogo juga terbesar di bursa. Kemarin, total kapitalisasi pasar Grup Barito itu sebesar Rp 1.413 triliun atau 12,22% dari total kapitalisasi bursa saham Indonesia yang sebesar Rp 11.563,03 triliun Nah, kembali lagi ke ekspansi Prajogo. Selain CUAN, anggota Grup Barito lain juga rajin ekspansi. adalah TPIA. Emiten ini menggenjot pembangunan pabrik chlor-alkali dan ethylene dichloride (pabrik CA-EDC) terintegrasi. Direktur Sumber Daya Manusia dan Urusan Korporat Chandra Asri Tbk, Suryandi mengatakan, untuk mendukung pembangunan pabrik ini, TPIA menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) senilai US$ 300 juta. "Proyek ini memakan waktu 26 bulan sampai 28 bulan," kata Suryandi.
Sementara BREN terus melebarkan sayap di luar bisnis panas bumi. Awal Januari 2024, BREN merampungkan akuisisi saham Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Lombok dan Sukabumi. BREN juga mengakuisisi PLTB Sidrap, Sulawesi Selatan. "Tujuannya pengembangan usaha dan memperkuat posisi bisnis grup di bidang energi terbarukan," terang Merly, Sekretaris Perusahaan BREN. Berkaca pada tangan ajaib Prajogo, Kepala Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas menilai saham PTRO berpotensi naik tinggi mengikuti jejak CUAN dan BREN. Sukarno menilai, PTRO sudah memiliki sepak terjang dan pengalaman yang baik, serta memiliki fundamental yang bagus. "Valuasinya menarik hanya volatilitas harga pasti tetap ada," kata Sukarno ke KONTAN, Selasa (6/2). Head of Investment Reswara Gian Investa, Kiswoyo Adi Joe menilai di antara emiten Grup Barito, bisnis TPIA dinilai paling rentan. Sebab, bisnis petrokimia sangat dipengaruhi volatilitas minyak bumi sebagai bahan baku produksi. Bisnis PTRO juga dinilai lebih stabil sebagai kontraktor tambang. Sedangkan CUAN terbantu harga komoditas batubara. Namun, Kiswoyo menilai, valuasi saham-saham Grup Barito saat ini masih premium. Sukarno sepakat. Untuk jangka pendek, secara teknikal ia melihat saham BREN bisa ke resistance Rp 5.925, BRPT ke Rp 1.080–Rp 1.105 per saham. Untuk PTRO, trading buy di harga antara Rp 5.550–Rp 6.000 dan support mencapai Rp 4.930.
Sumber : Kontan 07 Februari 2024